Sabtu, 07 April 2012

Cerpen_Idolaku ya Kakakku


Idolaku Ya Kakakku
Di sebuah aula sekolah sedang diadakan pertandingan bola basket antar SMA se-Jakarta. Penonton pun senantiasa bersorak-sorak.
            “Kak Rafi! Ayo kak!! Jangan menyerah ya!?”, seru Sasi, salah seorang dari ribuan penonton yang sedang menyemangati kakaknya itu.
Mendengar seruan adiknya, Rafi pun menoleh dan tersenyum pada Sasi. Sasi pun terpesona dengan senyuman kakaknya itu. Mulutnya menganga bak gawang yang ingin kebobolan bola.
Kak Rafi senyum sama aku!? tanya Sasi dalam hatinya.
            “Duar!! Kok bengong aja sich?”, kaget Raya, dambaan hati Rafi.
            “Eh, kak Raya!!”
“Ayo Rafi!! Semangat ya?!”, seru Raya.
Sasi melirik sinis wajah Raya yang sedang memberi suport pada Rafi. Rafi pun melambaikan tangan ke arah dambaan hatinya itu.
Hu’uh!! Ngapain sich, kak Raya ngasih semangat buat kak Rafik ?! Kak Rafi kan, kakak aku! Mana kak Rafi pakai acara ngelambain tangan ke kak Raya segala lagi!! gerutu Sasi dalam hatinya.
Pertandingan pun  usailah sudah. Dengan skor yang cukup tinggi, tim basket sekolah Rafi memenangkan pertandingan tersebut. Pendukung tim basket itu pun bersorak-sorak kegirangan, saking girangnya, Sasi berlari berlari
menuju ke arah Rafi dan tanpa berpikir panjang lagi, Sasi langsung mendekap erat tubuh six pack Rafi.
Aku kan adiknya kak Rafi, walau aku cuma adik tiri sich . . . tapikan aku boleh dong peluk dia!? Aku harus jadi orang pertama yang kasih ucapan selamat buat
dia!!   kata Sasi dalam hati.   
            “Selamat ya, Kak!?”.
Raya yang melihatnya, merasa agak iri dan cemburu. Karena merasa tidak enak dengan Raya, Rafi pun melepaskan dekapan Sasi.
            “Selamat ya, Fi!?”, ucap Raya seraya mengulurkan tangan manisnya.
            “Makasih ya, Ray . . . Oia Ray, karena aku udah menang lomba ini, aku mau traktir kamu makan di kafe favourit kamu, kamu maukan??”, ajak Rafi.
            “Dengan senang hati . . .”, sahut Raya menerima ajakan kekasih hatinya itu.
Aku nggak boleh ngebiarin mereka berdua-duaan di kafe!! aku harus ajak kak Rafi pulang!!  ucap Sasi dalam hati.
            “Kak! Kata mama, kalau udah selesai lomba, kita harus langsung pulang ke rumah!! Kakak harus bagi-bagi kemenangan ini sama mama dan papa! Mama pasti udah masakin masakan yang enak buat kita!!”, jelas Sasi dengan berbagai macam alasan.
            “Tapi, Sas! . . .”
            “Udahlah Raf! Mendingan kamu ngerayain kemenangan ini sama keluarga kamu aja! Traktir aku nya kapan-kapan aja, kita masih punya banyak waktu kan?!”, sela Raya dengan penuh perhatian.
            “Okey dech . Oia, kamu mau aku antar pulang?”.
            “Enggak usah kak, nanti aku sama siapa? Suruh nunggu di sini dulu gitu!?”, sela Sasi agak kesal.
            “Enggak usah Fi, aku pulang sama Voni aja. Kasian kalau Sasi disuruh nunggu di sini”.
            “Ya udah, aku pulang dulu ya Ray . . . ?!”, pamit Rafi.
Raya hanya menjawabnya dengan senyuman manis khasnya.
            “Da dah Kak Raya!!”, kata Sasi seraya melambaikan tangan.
Kakak beradik itu pun pergi meninggalkan aula. Sasi dibonceng oleh Rafi dengan sepeda motornya. Sasi pun dengan senantiasanya melingkarkan kedua tangannya ke perut Rafi.
Sebenarnya Rafi agak risih, tapi mau bagaimana lagi, toh Sasi adalah adiknya, walau adik cuma adik tiri sich. Sekitar pukul 18.00 WIB, mereka pun sampai di kediaman mereka. Mereka langsung masuk ke kamar mereka masing-masing, mandi, dan melaksanakan ibadah shalat Maghrib. Selesainya dari shalat Maghrib, Sasi duduk de ranjang dan mengambil bingkai foto yang terdapat foto Rafi dari laci meja belajarnya.
            “Kak Rafi emang keren abisss . . .”, kagum Sasi sembil memandangi foto kakak tirinya itu.
Sudang hampir setengah jam Sasi berkhayal dengan foto kakak tirinya itu. Saatnya makan malam. Sasi keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan. Makan malam adalah saat-saat yang paling dinanti oelh Sasi karena ia bisa duduk berseberangan denga Rafi dan menatap puas paras tampan milik Rafi.
            “Kak Rafi menang lomba lho Ma, Pa!!”, kata Sasi membuka acara makan malamnya.
            “Selamat ya, Fi . . . “, ucap mama dan papa secara bersamaan.
            “Ini berkat dukungan Sasi juga lho!! Gara-gara teriak-teriak buat ngedukung kak Rafi, suara Sasi jadi kayak kodok ngorek, hehehe . . . Kok, Kakak ngga ngucapin makasih sama aku sich?!”, kata Sasi dengan PDnya.
            “Iya dech , makasih ya Sas?!”, ucap Rafi seraya memberantaki rambut Sasi.
Hah! Kak Rafi megang rambut aku?!  kata Sasi dalam hati sambil senyam-senyum sendirian.
Papa dan mama hanya tersenyum melihat keakraban anak-anak mereka.
Sehabis makan malam, Sasi merasa ngantuk dan lengsung ke kamarnya. Mungkin karena kelelahan, jadi dia tidurnya agak dipercepat dech. Sebelum tidur, terlebih dahulu ia mengerjakan shalat Isya. Seperti biasanya, ia tidur dengan memeluk foto Rafi.
            “Sas! Sasi! Kamu udah tidur ya? Kakak mau pinjem komik baru kamu dong!!”, seru Rafi.
Dengan tak sengaja, Rafi membuka pintu kamar Sasi yang kebetulan tidak terkunci.
            “Kamu udah tidur toh . . . !? Pantesan, dipanggil enggak nyaut-nyaut. Kok, pintunya enggak dikunci sich?!?”.
Rafi melihat Sasi sedang memeluk bingkai foto. Dikiranya, foto yang ada di bingkai itu tak lain adalah foto almarhumah ibunda Sasi.
            “Sasi . . . pasti kamu kangen banget ya sama mama kamu?! Sas, kamu jangan pernah sedih ya? Dan jangan pernah mengira kalau kamu akan kehabisan kasih sayang dari seorang ibu karena kakak dan mama kakak akan kasih kebahagiaan yang lebih buat kamu. Walau terkadang, kamu hadir saat kakak dan Raya lagi bersama, tapi kakak tetap seyang sama kamu! Kakak senang punya adik seperti kamu! Adik yang selalu ceria!”, kata Rafi seraya menatap Sasi yang tertidur lelap.
Kemuadian, Rafi pun mengambil bingkai dari pelukan Sasi untuk diletakan di atas meja. Saat melihat foto itu, Rafi terkejut dan heran.
            “Astaghfirullahuladzim . . . !! Kok, foto aku sich??! Enggak mungkin! Sasi enggak mungkin suka sama aku! Dia cuma boleh anggap aku sebagai kaka! Enggak lebih!”, kaget Rafi.
Rafi langsung keluar dari kamar Sasi dan masuk ke kamarnya yang kebetulan berdampingan dengan kamar Sasi. Lalu, dia membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.
            “Dia enggak boleh suka sama aku! Soalnya, biar bagaimana pun, kita itu kakak beradik. Dia emang bukan adik kandungku , tapi aku udah anggap dia seperti adik kandung aku . . .”, kata Rafi tak bisa berhenti memikirkan hal itu.
Pagi harinya, Sasi terbangun dari tidurnya yang lelap dan merasa keheranan, mengapa bingkai foto yang berisi foto Rafi sudah tidak di pelukannya lagi???
            “Siapa yang naro bingkai ini di meja? Jangan-jangan!!?? Kak Rafi!? Enggak! Enggak mungkin kak Rafi! Palingan jugabi Ami”, tanya dan jawab Sasi sendiri.
Tanpa pikir panjang, Sasi pun langsung ke kamar mandi. Selesai dari mandi dan berhias, ia keluar kamar dan sarapan pagi bersama keluarganya. Sasi duduk dan melihat ke sekelilingnya.
            “Kak Rafi mana Ma?? Biasanya dia udah nongkrong di sini duluan”, tanya Sasi.
            “Dia udah berangkat. Katanya ada pendalaman materi pagi. Sasi diantar papa aja ya . . . ?!?”, jawab mama.
            “Pendalaman materi?? Pendalaman materinyakan cuma hari Jumat dan Sabtu.
E . . . e . . . mungkin ada jadwal baru kali ya??”, kata Sasi bingung sendiri.
            “Iya Sas, tadi sich Rafi bilang kayak gitu sama mama”.
Usai sarapan, Sasi berangkat sekolah dan diantar oleh papanya. Saat jam pelajaran dimulai dan pelajaran pertama adalah matematika, Sasi bukannya memperhatikan penjelasan gurunya, malah ia dengan asyiknya memandangi foto Rafi yang selalu dibawanya di dalam dompetnya.
            “Sas! Ngapain sich kamu ngeliatin foto kak Rafi terus?! Padahal tiap harikan kamu udah liat! Tiap detik malah”, kaget Vina, teman sebangku Sasi.
            “Kak Rafi kan idolaku!! Aku kan masih suka sama dia Vin. Dia keren banget ya, Vin??”, sahut Sasi seraya mengelus-elus foto dipegangnya.
            “Jangan gila dong Sas!? Dia tuh udah jadi kakak kamu! Walau Cuma kakak tiri, tapi tetap aja dia itu kakak kamu!!”, nasehat Vina.
            “Udahlah enggak usah dibahas!! Nanti malah diomelin sama bu Maya. Dah, fotonya mau aku taruh lagi. Nanti, kamu malah jadi suka sama my idol !!”, kata Sasi mengalihkan pembicaraan Vina.
            “Dasar Sasi !!!”.
Sudah delapan jam, Sasi berada di sekolah. Sekarang, saatnya untuk kembali pulang. Sasi berlari menuju kelas Rafi. Rafi pun sudah berdiri di depan pintu kelasnya.
            “Kita pulang yuk, Kak!?”, ajak Sasi.
            “Kakak mau ngerjain tugas kelompok sama teman-teman, Sas! Kamu pulang duluan aja ya?! Kamu bisa naik taksi kan?”, tolak Rafi.
            “Sama kak Raya belajar kelompoknya??!!”, tanya Sasi melihat Raya yang baru keluar dari dalam kelasnya.
            “Iya”.
            “Ya udah dech, aku pulang dulu ya Kak!?”, pamit Sasi.
Dengan berat hati dan rasa kecewanya. Sasi pergi dari hadapan Rafi.         
Maafin Kakak ya, Sas!? Kakak terpaksa bohong sama kamu. Kakak enggak mau buat kamu semakin jatuh hati sama Kakak. Walau Kakak, masih belum tahu pasti kalau kamu itu suka sama aku atau enggak . . . ??  ujar Rafi dalam hati.
Sebelum pulang ke rumah, Sasi mampir dulu ke Gramedia, kebetulan sedang ada diskon 50 %. Biasa, dia mau beli komik untuk menyalurkan hobi membacanya di rumah nanti. Di tangannya sudah membawa lima komik seri misterius. Tiba-tiba, mulutnya menganga lebar, mata indahnya pun terbelalak saat melihat sang idolanya sedang bercanda ria dengan seorang wanita. Sasi pun menghampirinya dengan air mata yang mulai tercurah ke bumi.
            “Ooohh . . . jadi belajar kelompoknya di sini toh?! Cuma berdua pula!! Habis dari sini mau ke mana lagi?? Pasti ke kafe, terus ke taman, ya kan?!!”, sindir Sasi.
            “Sas, maafin kakak Sas!? Kakak enggak bermaksud buat ngebohongin kamu! Kakak bisa jelasin masalahnya, Sas!!”, jelas Rafi.
Raya hanya terdiam. Dia bingung dengan apa yang sedang terjadi. Raya kira, Rafi sudah izin kepada Sasi.
            “Udahlah! Enggak usah dijelasin segala! Tanpa kakak jelasin, aku juga udah tahu kok, Kak!! Kakak enggak mau dekat-dekat sama aku lagi kan?! Soalnya kakak lebih milih jalan sama dambatan hati kakak yang satu ini! Ya kan!!??”, bentak Sasi.
            “Bukan kayak gitu Sas! Kamu suka sama kakak kan?? Tiap mau tidur, kamu selalu memeluk foto kakak, kan?? Kakak cuma berusaha menghindar dari kamu supaya kamu enggak teru-terusan suka sama kakak!! Karena kamu adalah adik kakak!!”, terang Rafi menjelaskan semuanya.
            “Udahlah Kak!! Enggak usah diterusin! Aku mau pulang! Capek! Permisi!!”, kata Sasi, lalu meletakkan komik yang dibawanya di atas rak dan lekas menghilangkan jejaknya dari hadapan Rafi dan Raya.
Rafi merasa bersalah, tapi ia bingung harus berbuat apa. Karena merasa bingung ingin mencurahkan masalahnya itu kepada siapa, ia pun mencurahkannya pada Raya. Dan Raya bisa memaklumi semua itu.
            “Fi, awalnya aku juga udah nebak, kalau Sasi itu suka sama kamu. Dia perhatian banget sama kamu. Aku juga ngeliat api cemburu dia kalau kita lagi bercanda”.
            “Aku harus gimana Ray?”.
            “Temuin dia. Selesain masalah ini sama dia ya!? Sasi itu kan adik tiri kamu dan kamu juga udah anggap dia sebagai adik kandung kamu sendiri, pasti dia ngerti sama kondisi kalian saat ini. Kalau di antara kalian enggak boleh ada hubungan yang spesial kecuali hubungan persaudaraan. Sasi pasti ngerti kok”, nasehat Raya sambil tersenyum kepada Rafi.
            “Makasih ya, Ray!? Aku berunrung punya pacar kayak kamu. Kamu selalu bisa ngertiin aku dan Sasi. Kamu enggak pernah ngedumel tentang Sasi. Padahal, dia kan suka ngegagalan acara kita”, sahut Rafi membalas senyuman Raya.
            “Kalau aku sayang sama kamu, aku juga harus sayang sama keluarga kamu. Lagi pula, masa sich aku harus marah sama Sasi. Biar bagaimanapun kan, Sasi enggak pernah nunjukin kalau dia itu sebel sama aku”.
Rafi menatap dalam mata kekasih hatinya itu dan menggenggam tangan mulus Raya.
Rafi beruntung mempunyai kekasih hati seperti Raya. Rafi pun segera pulang untuk menemui Sasi. Sebelum masuk ke dalam rumah, Rafi masuk melalui pintu belakang, ia melihat Sasi yang sedang duduk terpaku di tepi kolam renang yang terletak di halaman belakang rumahnya. Rafi duduk mendampingi Sasi dan membuka suasana yang hening.
            “Sasi . . . maafin kakak, ya? Jawabyang jujur ya!? Apa kamu benaran menaruh perasaan cinta untuk kakak?”.
            “Kakak enggak perlu minta maaf! Seharusnya, Sasi yang minta maaf sama kakak. Iya!! Dari SMP sampai sekarang pun, Sasi masih suka sama kakak! Dan aku, hanya bisa memendam perasaan ini sendirian kak! Karena saat ini sampai kapanpun, kakak udah dan akan menjadi kakak aku untuk selamanya. Tapi, aku enggak bisa ngilangin perasaan aku yang satu ini, kak! Kadang aku cemburu kalau ngeliat kakak sama kak Raya!”, jujur Sasi.
            “Makasih, kamu udah jujur sama kakak. Sas! Walau kamu baru jadi adik kakak selama dua tahun, tapi kakak sayang sama kamu seperti adik kandung kakak sendiri. Kakak enggak pernah anggap kamu sebagai adik tiri. Sas, kakak mohon, anggap kakak sebagai kakak kandung kamu, sehingga perasaan cinta kamu itu sirna! Kakak enggak ingin membuat kamu sakit hati karena kakak dekat dengan kak Raya. Sekali lagi, tolong anggap aku sebagai kakak kandung kamu!”, pinta Rafi.
            “Satu lagi! Persaudaraan itu lebih erat hubungannya dibandingkan kalau kita pacaran! Dengan adanya tali persaudaraan ini, kita bisa memiliki satu sama lain untuk selamanya, kalau pacarankan, kita bisa putus, terus marah-marahan, akhirnya bisa dendam, terus pergi ke dukun buat nyantet si dia supaya sakit hati kita bisa terbalaskan. Hehehehehehehehehe!!!”, tambah dan celetuk Rafi.
            “Akh, kakak bisa aja sich!? Iya dech, aku akan anggap kak Rafi sebagai kakak kandung aku sendiri. Dan kak Raya . . . sebagai kakak ipar aku! Hehehehehe . . . .”, balas Sasi.
            “Kok, pakai bawa-bawa nama aku sich?!”, kaget Raya hadir di tengah-tengah Rafi dan Sasi.
            “Kak Raya!?!”, kata Sasi terkejut.
            “Kak, aku mau minta maaf ya sama kakak. Karena selama ini, aku udah berusaha ngerebut cinta kak Rafi dari kakak. Aku emang egois. Aku sadar, aku enggak akan pernah jadi dambaan hati kak Rafi, tapi aku udah berhasil jadi adiknya. Aku pengen, kak Raya bisa jadi pilihan hati kakaku yang terbaik!”.
            “Siap bos!!”, sahut Raya menyanggupinya.
            “Tapi , , , ada tapinya nich , , kalian berdua harus tetap ngizinin aku untuk mengidolakan kakakku tercinta! Aku mengidolakan kak Rafi sebagai pemain basket terhandal plus sebagai kakakku yang paling baik, bukan menjadikannya sebagai bintang hatiku!!”, tambah Sasi.
            “Tentu saja, Sas!!”, sahut Rafi dan Raya serentak.
Rafi dan Raya pun saling berpandangan.
Mereka berdua emang cocok banget ya !? Mereka selalu bikin aku iri, tapi aku kan udah janji, aku enggak boleh suka sama kak Rafi karena dia adalah kakak aku sendiri untuk selamanya . . .  ujar Sasi dalam hati seraya meneteskan air mata.
            “Kamu kok nangis, Sas??”, tanya Raya.
            “Aku terharu kak, hhe . . .”.
            “Sas, kamu beneran, mau jadiin kakak sebagai kakak kandung plus idola kamu?? Kakak beruntung banget bisa punya adik kayak kamu!!”, kata Rafi memuji Sasi.
Sasi termenung sejenak dan mengejutkan sepasang kekasih yang sedang menantikan jawabannya.
            “Iya, Idolaku ya kakakku!!!”, sahut Sasi dengan mantapnya.
Rafi pun memeluk erat tubuh Sasi dan Raya tersenyum lega karena masalah ini dapat terselesaikan dan berakhir dengan bahagia.



         

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar